Melihat mayat tersebut, Walikota segera menoleh ke arah Ling Mei yang berdiri terdiam dimulut goa sedang memandangnya.

Ling Mei sekilas melirik Lynx yang masuk kedalam gua, lalu kembali menatap Walikota dengan ekspresi datar. "Aku tidak tahu."

Lynx yang mendengar walikota sudah datang, mengurungkan niatnya untuk melepaskan istri walikota. Dia berbalik dan hanya mengangkat bahu tanpa ekspresi saat melihat tatapan walikota."Aku juga baru saja datang."

Walikota mengernyit, jelas tidak puas dengan jawaban itu. Namun, pikirannya segera tertuju pada sesuatu yang lebih penting. Wajahnya memucat.

"Istri dan anakku... Apakah mereka ada di dalam gua? Apakah mereka baik-baik saja?

Tanpa menunggu jawaban, dia segera berlari menuju gua. Ling Mei mengikutinya dengan tatapan penuh selidik, sementara Lynx berjalan santai menuju ke sebuah batu untuk duduk bersantai diluar gua.

Begitu melangkah masuk, Walikota menemukan istrinya dan anaknya di sudut gua, masih dalam keadaan selamat. Napasnya sedikit lega, namun matanya segera menangkap sesuatu yang lain, sesosok mayat tergeletak tak jauh dari istrinya.

Walikota tertegun, jantungnya berdegup kencang. Ia bergegas mendekat dan mengenali pria itu sebagai salah satu kultivator master foundation emas hitam, sama seperti pria di depan gua tadi.

"Dia terbunuh oleh senjata yang sangat panas," pikir Walikota, mencermati dua lubang dengan bentuk yang sama melubangi kepalanya. "Senjata apa yang dapat membuat luka seperti ini?"

Dengan cepat, Walikota menatap istrinya, merasakan campuran lega dan kebingungan yang menyelubungi hatinya.

"Apa yang terjadi di sini?" tanyanya dengan suara yang penuh kekhawatiran, berusaha menembus kabut ketakutan yang meliputi situasi.

Wanita itu tampak masih sedikit gemetar, tetapi ia berusaha menenangkan diri sebelum menjawab. "Aku tidak tahu... Tiba-tiba saja pria itu mati di dekatku. Lalu mendadak semuanya gelap karena api unggun padam dan seseorang datang."

"Seseorang? Apakah kamu mengenali siapa orang itu?" Tanya walikota dengan tegang.

Ia menelan ludah, mengingat kembali kejadian itu dengan jelas. "Aku tidak bisa melihat wajahnya karena gelap. Aku hanya bisa mendengar suara pertempuran di luar. Ada teriakan kemarahan dari pria yang menangkapku, lalu cahaya kilatan dan suara ledakan yang mengguncang gua. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi... Hingga kau datang."

Raut wajahnya memantulkan ketakutan yang mendalam, seolah setiap detik yang berlalu membawa kembali ingatan akan bahaya yang mengancam. Walikota merasakan kekhawatiran semakin menggelayuti pikirannya, berusaha menyusun kepingan-kepingan informasi yang ada, mencari tahu apa yang telah terjadi di luar sana.

Walikota mengerutkan kening. Ia menatap mayat di dekat istrinya, lalu beralih pada Ling Mei, seolah berharap ada jawaban darinya. Namun, Ling Mei tetap diam.

Sebuah pertarungan besar telah terjadi, namun tak satu pun dari mereka mau memberi penjelasan yang jelas.

Walikota merasa semakin bingung, tetapi yang lebih penting sekarang adalah memastikan keluarganya selamat. Dengan hati yang masih dipenuhi kegelisahan, ia menarik istrinya dalam pelukan, sementara pikirannya terus dihantui oleh misteri yang terjadi di tempat ini.

"Aku tidak bisa bergerak bebas, entah apa yang sudah orang itu perbuat sehingga tubuhku terasa kaku." Kata istri walikota.

Ling Mei yang mendengarnya segera memeriksa dan membuka titik syaraf yang terkunci sehingga istri walikota bisa bergerak bebas kembali.

"Terimakasih nona Ling Mei." Kata istri walikota dengan tulus. Dia merasa anaknya Li Wei sangat beruntung karena memiliki kakak seperguruan yang sangat peduli kepadanya.

Ling Mei hanya senyum sekilas dan menganggukkan kepala tanpa menjawab.

"Baiklah, mari kita pulang sekarang. Kita bahas lagi hal ini dirumah." Kata Walikota. "Maaf jika saya harus merepotkan nona Ling Mei untuk membantu membawa anak saya."

Ling Mei tersenyum,"tidak masalah tuan walikota." Jawabnya singkat, dengan segera dia menggendong Li Mei yang masih pingsan.

Saat mereka keluar gua, kegelapan malam semakin menyelimuti hutan tersebut. Terlihat Lynx, Walikota Huoling, dan Ling Mei bergerak meninggalkan gua dengan cepat.  Walikota menggendong istrinya yang masih lemah, sementara Ling Mei membawa tubuh Li Mei yang masih tak sadarkan diri.

Suasana di sepanjang perjalanan terasa sunyi, hanya suara langkah kaki mereka yang menggema di antara sisa-sisa kehancuran hutan. Pohon-pohon yang dulunya rindang kini telah lenyap, berubah menjadi tanah hangus akibat pertempuran dahsyat yang baru saja berlalu.

Walikota berlari dengan raut wajah tegang, pikirannya dipenuhi kecemasan akan keselamatan keluarganya dan bayangan artefak yang hilang. Serta pengkhianatan keluarga Huo, bukanlah masalah kecil, terdapat konspirasi besar dibalik ini, bahkan kumungkinan besar kematian walikota sebelumnya berhubungan dengan mereka.

Kebingungan melanda dirinya, tidak tahu dari mana harus memulai penyelidikan ini. Di samping itu, kekhawatiran akan kondisi Komandan Jiang juga menghantui benaknya, sebab mereka meninggalkan Komandan Jiang yang terluka parah akibat serangan Grandmaster.

Akhirnya, mereka tiba di kediaman Walikota. Para pelayan segera berhamburan keluar, membantu membawa istri Walikota dan Li Mei ke dalam untuk mendapatkan perawatan yang diperlukan. Komandan Jiang, Li Wei, Jelita dan para wanita murid sekte Api Langit menyambut mereka.

"Ling Mei, bagaimana kondisi kalian? Apakah baik-baik saja?" Tanya para murid Sekte Api Langit yang mengkhawatirkan kondisi Ling Mei, rekan seperguruan mereka.

Ling Mei menganggukkan kepala dan masuk kedalam rumah walikota.

Sementara itu, Jelita menyambut Lynx, "bagaimana keadaanmu? Apakah mereka menyakitimu?" Jelita bertanya dengan nada khawatir.

"Aku baik-baik saja. Mereka tidak akan bisa melukaiku. Salah satu dari mereka melarikan diri." Lynx menjelaskan dengan berbisik pelan.

Walikota menatap Xiao Ling dan Yun Qing dengan ekspresi yang mendalam. Ia ingin menggali lebih banyak pertanyaan, tetapi akhirnya hanya menghela napas.

“Aku berhutang nyawa padamu,” katanya, suaranya rendah namun penuh ketulusan.

Xiao Ling tidak menjawab, hanya tersenyum penuh arti. Ia tidak ingin berbohong, tetapi juga tidak berminat untuk menjelaskan cerita sebenarnya.

Walikota segera masuk dan memberikan instruksi untuk merahasiakan apa yang telah terjadi, termasuk mengenai kondisi walikota.

***

Di kediaman keluarga Huo, para anggota keluarga berkumpul dalam ruang pertemuan yang remang-remang.

"Kenapa tidak ada berita sama sekali?" Salah satu tetua keluarga Huo berbisik dengan nada khawatir. "Jika rencana berjalan sesuai rencana, seharusnya kita sudah mendengar kabar duka dari rumah Walikota!"

"Tapi tidak ada tanda-tanda keributan, tidak ada berita mengenai kematian Walikota, bahkan pasukan kota tetap berjaga seperti biasa," tambah yang lain, suaranya dipenuhi keraguan.

"Betul, selain itu hingga saat ini, Kakek Huo Zhen juga belum kembali," kata Huo Tao dengan nada khawatir.

"Yang mampu menghalangi rencana kita hanyalah para murid Sekte Api Langit yang datang menjemput murid mereka, Li Wei. Seharusnya sudah menjadi tugasmu untuk menghalangi mereka di acara judi batu. Apa yang terjadi hingga kamu kehilangan jejak mereka?" tanya Ayah Huo Tao, suaranya tegas namun penuh kekhawatiran.

"Aku sudah memperhatikan mereka dan bersiap untuk menghalangi jika mereka terlihat ingin kembali. Ayah tahu sendiri, wanita Li Wei itu tidak mau aku mendekati mereka, karena itu aku tidak tahu jika mereka pergi saat aku mengalihkan perhatian mereka dengan bertaruh terhadap salah seorang temannya. Aku tidak menduga temannya terlalu pengecut sehingga melarikan diri dan mereka menyusulnya." kata Huo Tao, sedikit defensif.

"Itu karena sifatmu. Kamu harus belajar mengendalikan diri di hadapan wanita, sebelum kamu memberikan masalah untuk keluarga," kata Ayah Huo Tao dengan nada mengingatkan.

"Sudah-sudah, jangan bertengkar lagi. Semua sudah terjadi. Kita hanya bisa menunggu Kepala Keluarga datang bersama tamu yang membantunya. Untuk sementara ini, jangan ada yang melakukan kesalahan, terutama kamu, Huo Tao," kata tetua lainnya, suaranya penuh kewibawaan.

"Kakek, bagaimana jika mereka gagal?" tanya Huo Tao, wajahnya mencerminkan kecemasan.

"Kepala Keluarga tidak mungkin gagal, karena dia bersama seorang Grandmaster. Tidak ada satupun di Kota Huoling ini yang dapat menghentikannya," kata tetua berusaha menenangkan, meski dalam hatinya, kekhawatiran menggelayuti pikirannya.

Ruangan itu dipenuhi kecemasan yang tak terucapkan. Jika Huo Zhen benar-benar gagal, maka mereka harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang dapat menghancurkan segalanya.

